Rabu, 05 Maret 2014

Sejarah Tempat-tempat di Yogyakarta

Sejarah Keraton Kesultanan Yogyakarta





Dahulu di Yogyakarta berdiri sebuah kerajaan, kerajaan itu adalah “Kerajaan Mataram”. Dalam masa kejayaannya, Kerajaan Mataram merupakan kerjaan yang kaya,makmur dsb. Tetapi pada akhirnya, Kerajaan ini pun mengalami guncangan.seperti konflik perebutan kekuasaan dari dalam maupun luar Kerajaan yang menghancurkan Kerajaan Mataram. Pada masa VOC, Belanda mampu memanfaatkan konflik yang terjadi di Istana. Perebutan kekuasaan Kerajaan pun diakhiri dengan adanya Perjanjian Giyanti yang terjadi pada Februari 1755. Perjanjian Giyanti menghasilkan untuk membagi 2 kekuasaan, yaitu Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Dalam Perjanjian itu, Pangeran Mangkubumi sebagai Sultan di Kesultanan Yogyakarta dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Kira-kira sebulan setelah Perjanjian Giyanti, Sri Sultan Hamengku Buwono I tinggal di Pesanggrahan Ambar Ketawang mendirikan sebuah Kraton di pusat kota Yogyakarta, yang saat ini menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Yogyakarta.

Sejarah Jalan Malioboro




Dalam bahasa Sansekerta, kata “malioboro” bermakna karangan bunga. Sama halnya dengan masa lalu ketika keraton mengadakan acara besar dan jalan Malioboro dipenuhi oleh bunga. Malioboro juga berasal dari nama seorang kolonial Inggris bernama “Marlborough” yang pernah tinggal disana pada tahun 1811-1816 M. Dibangunnya jalan Malioboro ini bertepatan dengan dibangunnya Keraton Yogyakarta. Memang sebenarnya Malioboro ini dibangun untuk pusat kegiatan ekonomi. Pada tahun 1755 Sri Sultan Hamengku Buwono I mengangkat seorang kapiten Cina, Tan Jin Sing. Kapiten Cina ini memiliki nama jawa,Setjodingrat. Kapiten ini tinggal didalam Setjodingratan(kini terletak disebelah timur Kantor Pos besar). Sejak sekitar tahun 1916, kawasan Malioboro sebelah selatan dikenal dengan pemukiman Pecinan, yang ditandai dengan rumah-rumah toko yang menjual barang-barang kelontong,emas dan pakaian.

Kawasan ini semakin ramai sejak Keraton membangun Pasar Gedhe atau sering disebut dengan Pasar Beringharjo yang beroperasi dari tahun 1926. Kawasan Pecinan makin meluas ke utara sampai ke Stasiun Tugu, dan Grand Hotel de Yogya(berdiri pada 1911,yang kini menjadi Hotel Garuda). Malioboro pun menjadi penghubung antara Stasiun Tugu sampai Benteng Rustenburg(kini menjadi Vredeburg) dan Keraton. Secara kultural, Malioboro merupakan gabungan dari dua kultur dominan,yaitu Jawa dan Cina.

Sejarah Stasiun Tugu Yogyakarta



Stasiun Kereta Api Tugu ini menjadi Stasiun utama di Yogyakarta. Stasiun Tugu mulai melayani kebutuhan transportasi sejak 2 Mei 1887, sekitar 15 tahun setelah Stasiun Lempuyangan. Awalnya, stasiun ini hanya digunakan untuk transit kereta pengangkut hasil bumi dari daerah di Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Namun sejak 1 Febnruari 1905, stasiun ini mulai digunakan untuk transit kereta penumpang. Jalur luar kota pertama dibangun tahun 1899, menghubungkan Yogyakarta dan Surakarta.

Berawal dari sebuah stasiun kecil, stasiun Tugu kini telah menjadi Stasiun terbesar di Indonesia. Memiliki 6 jalur kereta, stasiun ini melayani transportasi dari hampir seluruh kota besar di Jawa. Lebih dari 20 keberangkatan dan kedatangan kereta berlangsung setiap hari, baik kereta ekonomi, bisnis maupun eksekutif.



 Sejarah Bandara International Adisutjipto




Lanud Adisutjipto terletak di sebelah timur kota Yogyakarta (± 8 kilometer) dengan ketinggian ± 131 M dari permukaan laut. Dulunya, Lanud ini bernama Pangkalan Udara Maguwo, sesuai dengan nama desa disekitar Bandara yaitu Maguwoharjo.  Dibangun sejak tahun 1940 yang kemudian mulai dipergunakan oleh Militaire Luchvaart (Belanda) pada tahun 1942. Setelah terjadi peralihan kekuasaan dari Belanda kepada Jepang, maka Pangkalan Udara Maguwo ini dijadikan sebagai salah satu tempat pemusatan kekuatan udara Jepang di Indonesia. Ketika  Kemerdekaan Indonesia diproklamirkan (17 Agustus 1945), maka terjadilah gerakan perlucutan senjata terhadap pendudukan Jepang di seluruh wilayah Indonesia. Di Yogyakarta, selain dilakukan usaha untuk melucuti Tentara Jepang di Kotabaru, pada tanggal 6 dan 7 Oktober 1945 juga dilakukan penyerangan dan perebutan tempat pemusatan kekuatan udara Jepang di Pangkalan Udara Maguwo.

Dalam pertempuran tersebut, akhirnya tentara Jepang menyerah kalah, sehingga seluruh Pangkalan Udara Maguwo termasuk kurang lebih 50 pesawat udara dapat dikuasai dan di bawah penguasaan bangsa Indonesia. Pemerinyah pun mengesahkan Bandara ini menjadi milik Indonesia. Dan sekarang,Bandara International Adisutjipto merupakan gerbang udara wisata terpenting bagi kawasan segitiga JOGLOSEMAR(Jogja-Solo-Semarang). Saat ini, Bandara ini menjadi Bandara tersibuk ke-3 di Indonesia setelah Soekarno-Hatta,dan Djuanda di Surabaya.

Sejarah Benteng Rustenburg(Vredeburg)





Mulanya Benteng ini bernama “Rustenburg” yang memiliki arti “Benteng Peristirahatan”, dibangun oleh Belanda pada tahun 1760 diatas tanah Keraton. Benteng ini digunakan untuk melindungi Residen Belanda yang tinggal di areal tersebut, dan juga digunakan untuk menahan serangan dari Kraton Yogyakarta. Pada tahun 1788 Benteng ini disempurnakan dan selanjutnya diganti namanya menjadi “Benteng Vredeburg” yang memiliki arti “Benteng Perdamaian”. 

Secara historis Benteng ini sudah mengalami perubahan fungsi, yaitu pada tahun 1760-1830 berfungsi sebagai Benteng Pertahanan , pada tahun 1830 -1945 berfungsi sebagai markas militer Belanda dan Jepang, dan pada tahun 1945 - 1977 berfungsi sebagai markas militer RI. Tahun 1985 Benteng ini dijadikan Museum Perjuangan dan dibuka untuk umum pada tahun 1987 dan pada 1992 berganti nama menjadi “Museum Benteng Yogyakarta”.

Sejarah Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949




Monumen ini berada satu kompleks dengan Benteng Vredeburg tepatnya di depan Kantor Pos Besar DIY. Monumen ini dibangun untuk memperingati serangan tentara Indonesia terhadap Belanda pada tanggal 1 Maret 1949. Serangan ini dilakukan untuk membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia masih memiliki kekuatan untuk melawan Belanda. Saat itu serangan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto, Komandan Brigade 10 daerah Wehrkreise III, yang tentu saja setelah mendapat persetujuan dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta pada waktu itu. Sri Sultan Hamengkubuwono IX menganggap saat itu Indonesia harus membuktikan kepada dunia luar bahwa walaupun para pemimpin negara Indonesia saat itu ditawan oleh Belanda, bukan berarti pemerintahan Indonesia telah lumpuh.

Dalam peperangan itu kota Yogyakarta saat itu berhasil diduduki oleh TNI selama 6 jam sampai dengan pukul 12.00, sesuai dengan apa yang telah direncanakan sebelumnya. Dengan berhasilnya Serangan Umum ini, maka moril TNI semakin meningkat dan mampu mematahkan propaganda yang dilakukan Belanda yang menyatakan bahwa RI dan TNI telah lumpuh. Saat ini Monumen Serangan Umum 1 Maret ini merupakan salah satu landmark dan cagar budaya provinsi DIY sebagai bangunan yang mengingatkan tentang sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah pada masa lalu. Pada saat-saat tertentu, seperti Hari Kemerdekaan atau Pahlawan, Monumen ini digunakan untuk memperingati hari tersebut.



Sejarah Gedung Agung



Gedung Agung Yogyakarta merupakan Istana Kepresidenan yang ada di Yogyakarta. Gedung yang terletak di kawasan titik nol kilometer Yogyakarta ini awal mulanya merupakan kediaman resmi residen Belanda ke-18. Setelah mengalami sejarah yang panjang, akhirnya Gedung Agung menjadi salah satu Istana Kepresidenan. Selain memiliki gedung induk, Gedung Agung juga dikelilingi wisma-wisma seperti Wisma Negara, Wisma Indraphrasta, Wisma Sawojajar, Wisma Bumiretawu, dan Wisma Saptapratala. Bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Gedung Agung wajib membuat surat permohonan terlebih dahulu dan harus dikirimkan jauh-jauh hari untuk mendapatkan persetujuan dari pihak rumah tangga Istana Kepresidenan. Setiap tanggal 17 Agustus, di Gedung Agung Yogyakarta selalu dilangsungkan acara Parade Senja.



Sejarah Taman Sari



Taman Air ini terbentuk sama seperti Keraton Yogyakarta, setelah Perjanjian Giyanti. Seiring dibangunnya Keraton, Sri Sultan juga membangun sebuah taman atau kebun rekreasi didalam area Benteng Keraton Yogyakarta dibagian barat, yang kemudian diberi nama Istana Air Taman Sari Yogyakarta. Taman Sari dibangun pada tahun 1758 selesai pada 1765. Pembangunan Taman Sari dipimpin oleh Tumenggung Mangundipuro dan orang Portugis bernama Demang Tegis. Lalu Tumenggung Mangundipuro mengundurkan diri maka dilanjutkan oleh Pangeran Notokusumo.

Pembangunan Sejarah Taman Sari Yogyakarta ini didanai oleh rakyat Madiun dibawah Bupati Tumenggung Prawirosentiko. Dan sebagai kompensasinya, maka Madiun dibebaskan dari pungutan pajak Keraton.

Sejarah Candi Prambanan



Candi prambanan merupakan salah satu candi yang terletak di Indonesia dan merupakan salah satu tempat tujuan wisata. Candi prambanan sering kali dipanggil dengan nama candi Roro Jonggrang, candi ini merupakan candi Hindu terbesar di Indonesia dan sekaligus menjadi candi yang sekaligus menjadi candi yang terindah di Asia Tenggara ini merupakan aset Indonesia yang tidak dapat dinilai harganya. Candi prambanan dibangun pada abad ke-9 masehi yang ditujukan untuk Trimurti yakni tiga dewa utama bagi agama Hindu, Brahma sebagai dewa pencipta, Siwa sebagai dewa pemusnah dan Wishnu sebagai dewa pemelihara.

Candi prambanan terletak di perbatasan antara Jawa tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, sehingga ada pula yang mengatakan bahwa letak candi Prambanan di jawa tengah. Candi prambanan terletak sekitar 20 KM dari Yogyakarta yang masih masuk wilayah Sleman dan Klaten (Yogyakarta).

Candi yang termasuk kedalam Situs warisan dunia ini menurut Prasasti Siwagrha dibangun sekitar tahun 850 masehi dan dibangun oleh Rakai Pikatan kemudian dikembangkan dan diperluas oleh Balitung Maha Sambu pada masa kerajaan Medang Mataram.

Candi Prambanan memiliki kaitan yang erat dengan kerajaan pengging, pada masa itu diceritakan kisah Bandung Bondowoso yang hendak menikahi Roro Jonggrang, namun ternyata Roro Jonggrang tidak menyukai Bandung Bondowoso dan hendak menolak lamarannya dengan cara yang halus. Dan akhirnya Roro Jonggrang dikutuk menjadi patung oleh Bandung Bondowoso karena menggunakan cara licik.




Sejarah Monumen Yogya Kembali


Museum Monumen Yogya Kembali, adalah sebuah museum sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia yang ada di kota Yogyakarta. Museum ini terletak dijalan Ring Road Utara Yogyakarta. Museum Monumen dengan bentuk kerucut ini terdiri dari 3 lantai dan dilengkapi dengan ruang perpustakaan serta ruang serbaguna. Pada rana pintu masuk dituliskan sejumlah 422 nama pahlawan yang gugur di daerah Wehrkreise III (RIS) antara tanggal 19 Desember 1948 sampai dengan 29 Juni 1949. Dalam 4 ruang museum di lantai 1 terdapat benda-benda koleksi: realia, replika, foto, dokumen, heraldika, berbagai jenis senjata, bentuk evokatif dapur umum dalam suasana perang kemerdekaan 1945-1949. Tandu dan dokar (kereta kuda) yang pernah dipergunakan oleh Panglima Besar Jendral Soedirman juga disimpan di sini (di ruang museum nomor 2).

Monumen Yogya Kembali dibangun pada tanggal 29 Juni 1985 dengan upacara tradisional penanaman kepala kerbau dan peletakan batu pertama oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII. Gagasan untuk mendirikan monumen ini dilontarkan oleh kolonel Soegiarto, selaku walikotamadya Yogyakarta pada tahun 1983. Nama Yogya Kembali dipilih dengan maksud sebagai tetenger (peringatan) dari peristiwa sejarah ditariknya tentara pendudukan Belanda dari ibukota RI Yogyakarta pada waktu itu, tanggal 29 Juni 1949. Hal ini merupakan tanda awal bebasnya bangsa Indonesia dari kekuasaan pemerintahan Belanda.

Museum Gula Gondang Satu-satunya di Asia Tenggara

Banyak daerah memiliki pabrik gula. Tapi hanya Klaten, Jawa Tengah yang memiliki Museum Gula. Beragam koleksinya dapat membuat kita kagum dan bangga. Museum Gula Jawa Tengah terletak di lingkungan kompleks Pabrik Gula Gondang Baru Klaten, termasuk dalam wilayah Desa Gondang Baru, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten.
Letak museum sangat strategis karena berada persis tepi jalan utama/ jalan raya yang menghubungkan kota Yogyakarta dengan Kota Solo. Pendirian Museum Gula Jawa Tengah dilandasi, pertimbangan bahwa perkembangan industri sebagai data untuk pengembangan lebih lanjut.
Peresmian berdirinya museum dilaksanakan pada tanggal 22 Agustus 1986, bertepatan dengan diadakannya Kongres Internasional Soceity of Sugar Cane Technologist (ISSCT) di Pasuruan Jawa Timur yang dihadiri para ahli gula seluruh dunia. Museum Gula Jawa Tengan menempati sebuah bangunan lama, yaitu bangunan bekas tempat tinggal yang bergaya arsitektur klasik Eropa.

Bangunan museum didirikan di atas areal tanah seluas 1.261,20 meter persegi dengan luas bangunan 240 meter persegi yang terdiri dari ruang pameran tetap, perpustakaan, lavotary, dan musholla, seta dilengkapi dengan ruang auditorium seluas 753 meter persegi. Status penyelenggaraan museum dilaksanakan oleh PTP. XV – XVI (Persero)yang berkedudukan di Surakarta dan dikelola oleh Pabrik Gula Gondang Baru Klaten.
Dilihat dari jenis koleksinya, museum Gula Jawa Tengah termasuk jenis museum khusus dengan bercirikan teknologi. Koleksi-koleksinya terdiri dari peralatan tradisional penanaman tebu bibit tebu, peralatan tradisional pemeliharaan tanaman tebu dan alat-alat, mekanisme atau fabrikasi dari pabrik gula, serta beberapa foto penunjang(foto pabrik lama,foto upacara giling pertama. Museum ini pun menjadi Museum Gula satu-satunya yang berada di Asia Tenggara.